Menhut Raja Juli Berkomitmen Cegah Penyebaran EEHV Pasca Tragedi Kematian Anak Gajah di Riau
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkolaborasi dengan pusat konservasi Vantara dari India dalam upaya mencegah kematian gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) akibat virus Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV). Pencegahan kematian gajah akibat infeksi EEHV memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa perhatian khusus akan diberikan terkait pencegahan EEHV setelah adanya laporan kematian anak gajah bernama Laila di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Bengkalis, Riau, akibat infeksi tersebut. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa mereka datang ke Riau untuk menilai kondisi gajah di wilayah ini.
“Hari ini kami mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina di Balai Besar KSDAE Riau, bersama tim dari Vantara, untuk mengevaluasi kondisi gajah yang berada dalam penangkaran,” ujarnya. Sementara itu, CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen, menyatakan kesiapan mereka sebagai perwakilan Vantara di Indonesia untuk mendukung pemerintah dalam survei dan penanganan kesehatan gajah di TWA Buluh Cina.
Kemitraan ini bertujuan untuk melakukan analisis medis dan tindakan preventif terhadap penyebaran virus EEHV. Danny berharap kerjasama ini dapat menyelamatkan populasi gajah sumatera yang kini terancam tidak hanya karena hilangnya habitat, tetapi juga oleh ancaman virus EEHV.
Menhut Raja Antoni meminta bantuan Fauna Land Indonesia untuk mendatangkan dokter gajah dari Vantara di India. “Kami memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang,” ujarnya.
Pada Senin (22/12), Fauna Land Indonesia bersama tim Vantara India tiba di Riau. Meskipun kolaborasi ini dimulai di Buluh Cina, upaya preventif juga akan mencakup seluruh kantong gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, Sebanga, dan Way Kambas. Tim dokter spesialis dari India telah melakukan diagnosis awal serta mempelajari kondisi kesehatan gajah, terutama setelah merebaknya penyakit herpes.
“Mereka adalah dokter ahli yang kini melakukan survei lokasi, di mana sebelumnya terjadi outbreak penyakit herpes. Kami telah melakukan diagnosis dan memperoleh data kesehatan serta kesejahteraan gajah. Selanjutnya, kami akan melakukan langkah-langkah preventif secara berkala untuk menghindari kematian lebih lanjut,” ujarnya.
Kolaborasi lintas negara ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan gajah di Indonesia, serta menjadi model penanganan kesehatan satwa liar yang lebih terukur, berbasis data, dan fokus pada pencegahan dini.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.