Hari
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Pesan Menegangkan Terakhir Korban Kebakaran Gedung Terra Drone: 'Saya Nggak Bisa Ngapa-ngapain'

img

Dalam suasana yang penuh duka, suara lirih menggema di halaman Rumah Duka RS Polri pada Rabu, 10 Desember 2025. Napas yang terdengar terburu-buru ini diceritakan oleh Ferry, kakak kandung Ervina, yang berusaha tetap tegar sambil mengingat detik-detik penerimaan kabar tragis. Ia merasa tak berdaya dan menyatakan, Sumpah ini gua dah.. Gua udah enggak bisa ngapa-ngapain, Dea, guys.

Ervina, yang baru berusia 25 tahun, merupakan salah satu dari 22 karyawan di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang kehilangan nyawa dalam insiden kebakaran tersebut. Di sampingnya, sang ayah, Endang Supandi, tak mampu menahan air mata yang mengalir. Ferry menjelaskan, Chat ke kakaknya dia menginformasikan bahwa kantornya kebakaran, namun informasi tersebut tidak diteruskan kepada siapa pun.

Ervina adalah anak bungsu dari enam bersaudara, dan rencananya jenazahnya akan dimakamkan keesokan harinya, menunggu kehadiran seluruh anggota keluarga. Kebakaran di Gedung Terra Drone itu menewaskan total 22 orang, terdiri dari 15 perempuan dan 7 laki-laki.

Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Prima Heru, mengungkapkan bahwa proses identifikasi terhadap korban memakan waktu dua hari. Hal ini berkat kombinasi data primer yang akurat dan kerja keras tim forensik yang bekerja dari malam hingga pagi. Kami memiliki data primer yang sangat akurat dari sidik jari, serta autopsi medis dan lainnya, jelasnya.

Sementara itu, Kombes Pol Ahmad Fauzi, Kabid Yandokpol Pusdokkes Polri, menyatakan bahwa seluruh korban dipastikan meninggal akibat menghirup karbon monoksida ketika kebakaran terjadi. Ini bisa dipastikan, tegasnya. Kombes Pol dr. Martinus Ginting, Kabiddokkes Polda Metro Jaya, menambahkan bahwa pemeriksaan darah menunjukkan kadar CO yang tinggi, menunjukkan bahwa tubuh para korban telah kehilangan kemampuan mengikat oksigen sebelum api membakar ruang mereka.

Dia menjelaskan bahwa ikatan hemoglobin terhadap karbon monoksida jauh lebih kuat, sekitar 20 hingga 30 kali dibandingkan dengan oksigen. Karena itu, mereka tidak bisa bernapas, dan untuk itulah dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar CO yang tinggi, katanya.

Infografis mengenai insiden kebakaran Gedung Terra Drone juga disampaikan, sebagai pengingat tragis dari peristiwa menyedihkan ini. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

© Copyright 2025 Citrafm.co.id - Radio Citrafm 102.6 Lubuklinggau All rights reserved
Added Successfully

Type above and press Enter to search.