Home Terkini Sejarah Perkeretaapian Lubuklinggau Yang Diprakarsai 30 Juni 1933

Sejarah Perkeretaapian Lubuklinggau Yang Diprakarsai 30 Juni 1933

20
0
SHARE

Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA).

Teknologi transportasi ini dalam kondisi yang getir tatkala perang perlawanan Aceh bahkan masih belum dapat dipadamkan seluruhnya oleh Hindia Belanda. Pada tahun 1874, pasukan kolonial Belanda membawa ke Aceh rel kereta api ukuran sempit, enam belas gerbong kereta api, dan kantin lengkap tenaga uap untuk memberi makan pasukan, tujuannya ialah untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km.[1]

Di zaman kolonial, Jawa secara fisik dipersatukan oleh satu jalur kereta api yang tuntas pada tahun 1894. Sebaliknya, pembangunan jalan kereta api di Sumatra bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau.[2] Pembangunan rel kereta api yang dilakukan di Sumatra untuk tujuan non-militer, pertama kali dilaksanakan di Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km.[3] Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) sebagai perusaahan yang membangun rel kereta pertama di Sumatra Utara, Tan Malaka mencatatkan dalam karyanya yang berjudul Dari Penjara ke Penjara bahwa pada tahun 1920-an di Deli terdapat sekitar 500 perkebunan yang pengangkutannya lancar sekali karena Deli-Spoor menghubungkan ratusan kebun tersebut.[4]

Kedua, setelah Sumatra Utara, rel kereta api dibangun di kawasan Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km. Tahun 1875 dan 1878 dibuka tambang batu bara di Ombilin sebagai hasil dari penelitian  ahli geologi asal Belanda bernama W.H. De Greeve pada tahun 1867. Baru tahun 1887 pemerintah menyetujui rencana pembangunan jalur kereta api dengan tujuan Sawahlunto itu. Soematera Staatspoorwegen (SSS) adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang melaksanakan pembangunan jalur kereta api yang nanti pada tahun 1892 telah mencapai Muaro Kalaban. Stasiun Sawahlunto diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur Muaro Kalaban-Sawahlunto pada tanggal 1 Januari 1894. Setelah jalur Pelabuhan Teluk Bayur-Sawahlunto selesai, hasil pertambangan di tempat ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Pertambangan Sawahlunto berhasil menghasilkan 508.000 ton batu bara pada tahun 1917 .[5]

Di Sumatra Selatan pembangunan rel dimulai tahun 1911, lintas pertama adalah sepanjang 12 km dari Pelabuhan Panjang menuju Tanjung Karang. Lintas ini mulai dilalui kereta api pada tanggal 3 Agustus 1914, pada waktu yang bersamaan dilaksanakan juga pembangunan jalan rel dari Kertapati (Palembang) menuju ke arah Prabumulih, di tahun yang sama lintas kereta api itu sudah mencapai 78 km.[6] Berturut-turut kemudian dibangun jalur Tanjung Karang-Kota Bumi (1920), Prabumulih-Baturaja (1923), Muara Enim-Lahat (1924), Baturaja-Martapura (1925), Kotabumi-Negararatu (1926) dan lintas terakhir Negararatu-Martapura (1927). Dengan demikian lintas Palembang-Panjang diselesaikan sepanjang 529 km.[7] Salah satu konsekuensi dari pembangunan jalur kereta api ialah pada tahun 1927 sebagian kopi rakyat daerah dataran tinggi daerah dataran tinggi bagian selatan (Ranau, Baturaja, dan Martapura) diangkut ke Palembang dengan kereta api, tidak lagi menggunakan kapal atau perahu. Jelasnya, moda transportasi kereta api mempersingkat waktu tempuh pergi-pulang yang sebelumnya dengan menggunakan pedati memakan waktu satu minggu antara kota Palembang ke pedalaman.[8]

Setelah masa pembukaan jalur-jalur kereta api dalam rentang waktu 1911-1927, ternyata Lubuklinggau mempunyai posisinya sendiri dalam sejarah perkeretaapian Sumatera Selatan. Jika ditinjau dari pembukaan-pembukaan lintas, maka lintasan penghabisan (akhir) yang dibuka adalah ‘Lintas Muarasaling-Lubuklinggau’ pada tanggal 30 Juni 1933.[9] Selesainya pembangunan jalur itu, pada tahun yang sama dibukalah Stasiun Lubuklinggau (disingkat Stasiun LLG). Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA).[10]

Pembangunan rel kereta api zaman kolonial di wilayah Pulau Sumatra sendiri, regional Sumatra Selatan (Palembang- Lampung) adalah yang paling akhir dibangun. Berturut-turut pembangunan rel kereta api dilakukan di pulau ini seperti Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km, Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km, dan Sumatra Selatan (1914-1933) dengan panjang 661 km. Meskipun jalur Sumatra Selatan yang paling panjang, namun terpisahnya ketiga regional perlintasan perkeretaapian yang tidak saling berhubungan tentu membuat moda transportasi ini belum terbilang sempurna. Apalagi panjang jalur kereta api seluruh Sumatra saat itu hanya mencakup 6,9% dari luas pulau ini.[11]

Ditinjau dari sisi transportasi, jalur yang menghubungkan Palembang-Lubuklinggau, Stephen Backshall dalam buku panduan pariwisatanya A Rough Guide to Indonesiamenyebutnya sebagai limited but useful passenger rail service atau ‘jalur kereta api yang terbatas namun sangat berguna’ sebagai akses transportasi sekitar wilayah ini.[12] Istilah ‘terbatas’ dalam pendapat Backshall ialah didasarkan pada fakta bahwa belum ada jalur kereta api yang menghubungkan seluruh Pulau Sumatra. Kondisi faktual ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda. Penyebab atau prakondisi itu ialah karena pembangunan jalur kereta api di pulau ini bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau – seperti disebutkan sebelumnya tendensi utama pembangunan ini hanya untuk kebutuhan eksploitasi kolonial – maka pembangunannya pun dilaksanakan pada tiga daerah terpisah : 1) Sumatra Selatan-Lampung, 2) Sumatra Utara-Aceh, dan 3) Sumatra Barat. Ketiga jalan (rangkaian jalur) kereta api yang terpisah-pisah ini tidak pernah terhubung satu sama lain.[13]

Jalur kereta api Palembang-Lubuklinggau (juga sebaliknya) yang telah berumur cukup tua – bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia – ternyata menyimpan sumber-sumber kesejarahan yang potensial untuk dipromosikan. Beberapa kota yang dilaluinya memiliki ikon kesejarahan yang penting untuk diabadikan. Selain Kota Palembang yang memang telah banyak dikenal sebagai pusat Sriwijaya, Kota Prabumulih dikenal sebagai salah satu kota yang bernilai ekonomis sejak zaman kolonial Belanda. Pembukaan jalur kereta api yang melewati Kota Prabumulih didasari oleh alasan ekonomi semata dengan dimulainya pengeboran minyak di kota ini, Muara Enim, dan Martapura.[14] Posisi Prabumulih semasa perjuangan sangatlah vital, karena setelah Perang Lima Hari Lima Malam (1945) di Palembang, Peroesahaan Minjak Repoeblik Indonesia (PERMIRI) – cikal bakal PT Pertamina – memindahkan pusat administrasinya ke Prabumulih.[15] Setelah Prabumulih, Muara Enim setidaknya memiliki dua catatan penting dalam kesejarahan Sumatra Selatan yakni dibukanya tambang batu bara (1919), minyak pada 1864 dan yang lebih tua lagi ialah bersama-sama dengan Kabupaten Lahat ialah wilayah yang menjadi persebaran dari kebudayaan Megalitikum.[16]

Jalur kereta api ini menjadi salah satu saksi bisu ketika rakyat berjubel meminta Bung Hatta berpidato di stasiun-stasiun kereta yang menjadi ramai karena kunjungan beliau ke Sumatra Selatan pada pertengahan 1947. Bung Hatta menginap di kediaman drg. M. Isa (gubernur muda Sumatra Selatan) di Palembang. Wakil Presiden pertama itu kemudian berkunjung ke Prabumulih, Tanjung Raja, Kayu Agung, Tanjung Enim dan Muara Enim. Bung Hatta menginap semalam di Lahat dan dua malam di Lubuklinggau, lalu beliau terus berangkat ke Surulangun. Perjalanan Bung Hatta saat itu dimaksudkan untuk memperkuat moral perjuangan kemerdekaan rakyat Sumatra melawan Belanda. Drg. M. Isa juga melewati jalur kereta api ini saat ia kembali dari gerilya di luar Kota Palembang sejak akhir 1947 hingga disepakatinya gencatan senjata RI-Belanda tahun 1949.[17]

– Palembang

“Palembang adalah kota tua yang telah berdiri sejak 682 M yang ditandai secara otentik dengan adanya prasasti Kedukan Bukit yang sekarang masih dapat dijumpai replikanya di Museum Sriwijaya, Museum Balaputra Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1821, Kesultanan Palembang dihapuskan empat tahun setelahnya (1825). Memasuki abad ke-20, perdagangan Palembang semakin menunjukkan kemajuan terutama dengan dibangunnya jalur kereta api pada rentang tahun 1914-1915 dan dibukanya jalur yang menyambungkan antara Stasiun Kertapati ke Prabumulih. Pemerintah jajahan Belanda menekankan tujuan utama dibukanya jalur kereta api untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi”

– Prabumulih

“Dikenal sebagai kota penghasil nanas di era modern, sejak masa kekuasaan Hindia Belanda hingga awal abad ke-20, Prabumulih memiliki hasil bumi yang strategis yakni minyak. Sejak dibukanya jalur kereta api beserta stasiunnya pada tahun 1915, Prabumulih menjadi kota yang ramai dikunjungi oleh berbagai penduduk untuk beragam urusan. Keramaian stasiun kereta api Prabumulih bahkan telah dikenal sejak zaman kolonial”

– Muara Enim

“Muara Enim adalah kabupaten dengan potensi tambangnya yang begitu besar. Di zaman kolonial Hindia Belanda dilakukanlah eksplorasi batu bara pada tahun 1895 di bawah kongsi dagang Lematang Maatschappij setelah itu pemerintah kolonial mengambil alih hasil eksplorasi dan pengelolaannya hingga akhirnya tahun 1923 beroperasi penambangan di Tambang Air Laya. Penambangan minyak jauh lebih tua dengan dibukanya tambang pada tahun 1864 di bawah Muara Enim Petroleum Maatschappij yang didirikan oleh J.W. Ijzerman. Di samping kekayaan tambang, Muara Enim juga termasuk wilayah persebaran megalitikum, meskipun tidak sebanyak yang ditemukan di kabupaten Lahat”

– Lahat

“Lahat dikenal sebagai “Tanah Seribu Megalit” karena persebaran situs-situs megalitikum yang begitu banyak. Peradaban megalitikum ialah suatu jenis peninggalan kebudayaan dalam sejarah saat manusia telah mengenal penggunaan logam. Zaman megalitikum terjadi jauh sebelum kerajaan Sriwijaya berdiri, maka tak heran peninggalan megalitikum sangat penting untuk diabadikan sebagai peninggalan sejarah pra-Sriwijaya. Kebudayaan ini menjadikan batu-batu besar sebagai objek seni, relijius, ataupun sebagai peralatan sehari-hari. Bentuk-bentuk dari benda-benda megalit dapat berbentuk seperti arca, lesung batu, dolmen, bilik batu, tetralith (batu dengan lukisan) dan batu datar (untuk persembahan)”

– Lubuklinggau

“Stasiun Lubuklinggau atau yang disingkat ‘LLG’ adalah stasiun tua yang telah dibangun sejak 1933. Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA). Makna kesejarahan yang didapat tentang Lubuklinggau sebagai jalur kereta api terakhir yang dibuka pada zaman kolonial ialah bahwa pada masa itu perkeretaapian merupakan sebuah sarana transportasi yang dibuka untuk mempermudah/mempercepat pengangkutan komoditas barang hasil eksploitasi penjajahan di Sumatra Selatan”

Sumber :

Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 64-65.

Reid, Anthony, Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm. 29.

Marks, A.J., Accounting for Services : The Economic Development of The Indonesian Service Sector ca. 1900-2000, Amsterdam : Aksant Academic Publisher, 2009. Hlm. 113.

Malaka, Tan, Dari Penjara ke Penjara, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 66.

Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm.166.

Tim Telaga Bakti Nusantara & Asosiasi Perkeretaapian Indonesia, Sejarah Perkeretaapian Indonesia Volume I, Bandung : Angkasa, 1997. Hlm. 82.

Departemen Penerangan Indonesia, Kereta Api Indonesia, Jakarta : Departemen Penerangan Indonesia, 1978. Hlm. 43.

Zed, Mestika, Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950, Jakarta : Pustaka LP3Es, 2003. Hlm. 111.

Pemerintah Kota Palembang, Buku Peringatan Lima Puluh Tahun Kota Pradja Palembang, Palembang : Firma Rhama & Co., 1965. Hlm. 18.

Amhir, Ary, 30 Hari Keliling Sumatra, Jakarta : Dolphin, 2013. Hlm. 270.

Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 67.

Backshall, Steve, A Rough Guide to Indonesia, London : Rough Guides, 2003. Hlm. 471.

Reid, Anthony, Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm.  29.

Tim Penerbit Kompas, Ekspedisi Anjer-Panaroekan : Laporan Jurnalistik KOMPAS, Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2008. Hlm. 90.

Tim Sejarah 40 Tahun Perminyakan Indonesia, 40 Tahun Usaha Pertambangan Minyak dan Gas Bumi , Jakarta : Biro Humas & HLN Pertamina, 1985. Hlm. 31.

Sukendar, Haris, Album Tradisi Megalitik di Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Hlm. 14.

Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 68.

Pengamatan / observasi pribadi penulis selama bertugas.

Baca Selengkapnya..